Kamis, 02 Maret 2017

First meet…

Cerita keduanya diawalai dengan pertemuan tak terduga.
Suatu hari di perengahan bulan februari, elvian hendak membuang sampah ke depan gedung apartemennya ketika ia membuka pintu…
Brukk….
Badan seorang gadis langsung jatuh kepelukannya. Tidak, pertemuan mereka bukan cerita romantic, malah sangat buruk. El segera melepas kantong sampah ditanagnnya dan menangkap gadis itu. Ia jelas terkejut, ia juga bingung, untuk anak 13 tahun pada umumnya, kejadian ini akan membuat mereka syok. Tapi tidak untuk El, ia cukup tenang membawa gadis itu ke sofa dan merebahkannya dan memastikan gadis itu bernafas, segera ia memanggil penajaga keamanan di lobi.
“Ini Nona Wie…” memanggutkan kepala, lebih karena ia baru saja berpapasan dengan sosok itu.
“Apa kita perlu memanggil ambulance?”
“Rasanya tidak”
“Huh?”
“Karena… liahat, Nona Wie hanya tertidur”
“…Er… Anda tahu dimana dia tinggal?”
“… itu…”
“Ada apa?”
“Nona Wie tinggal disebah” Penjaga keamanan keluar dari apartemen El lalu menunjuk pintu tak jauh dari tempatnya berdiri. “Tapi…”
“Tapi?”
“Dia tinggal sendiri, jadi untuk sementara biarkan dia istirahat disini”
“Huh!?”
“Aku harus kedepan, sampai nanti…”
“Tu... Tunggu…” pintu lift tertutup. “Si Tua Bangka itu…” El menggerutu melihat kepergian penjaga keamanan yang tersenyum sambil melambai. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” El melengguh melirik sosok gadis disofanya. Ini hari ke-4nya tiba di Central dan sudah dihadapkan dengan hal menyebalkan dan parahnya, ia tak punya pilihan selain menerimanya.
El menghabiskan harinya dirumah, ia tak bisa meninggalkan gadis itu sendiri. bagaimana jika ia terbangun? Bagaiamana jika ia bingung tempatnya berada dan mulai panic? Dan semacamnya, itu semua pikiran Elvian dibalik wajahnya yang tenang. Ia kembali membersihkan rumahnya (yang sebenarnya sudah ia lakukan kemarin) untuk menenangkan pikirannya.
Tapi gadis itu tak bangun hari itu. Juga pagi berikutnya, menjelang senja ia baru terbangun seolah tak terjadi apapun dan terkejut mendapati sosok El dipojokan sedang bergumam. “Bagaimana kalau dia ngga bangun”
“… Er…”
“Apa aku harus memanggil ambulance?” lirihnya. Kontan saja gadis itu tertawa mendengarnya. “A…Apa?” El tampaknya segera sadar dari kepanikannya dan terkejut mendapati sosok gadis itu berdiri dibelakangnya.
“Hay…” sapa gadis itu usai tawanya mereda.
“Kau sudah bangun? Apa kau baik-baik saja?”
“Ya… maaf merepotkanmu… ngomong-ngomng tanggal berapa sekarang”
“Tanggal? 15 februari”
“Huh? Berapa lama aku tertidur?”
“Dua hari, satu malam”
“Wow…” gadis itu terdiam sejenak. Elvian yang tak makan apapun sejak pagi tadi mau tak mau perutnya berbunyi tanpa permisi. “Apa kau lapar? Kau bisa memesan apapun yang kau mau, aku akan membayar untukmu” ucap gadis itu.
“Yakin? Aku makan sangat banyak”
“Ya… kau bisa memesan sebanyak yang kau mau karena aku sudah merepotkanmu”
“Baiklah…” El masih tak sepenuhnya percaya, bahkan jika gadis ini tak bisa membayar semua pesanan makanan yang akan El pesan, setidaknya, karea sudah membuat dirinya khawatir dan melihat sisi yang paling El ingin sembunyikan ditambah membuat tantangan seperti itu, El denagn semangat memesan banyak makanan dari berbagai restaurant ternama. Gadis itu tampak tak peduli saat El memesan makanan, ia bahkan asik dengan ponselnya. ‘apa ini baik-baik saja?’ batinnya.
1 jam kemudian, semua pesanan datang, gadis itu mengeluarkan banyak uang begitu saja seolah itu tak berarti untuknya. ‘anak orang kaya’ batin El, tapi ia tak mengeluh, toh semua makanan itu sudah balasan yang lebih dari apa yang ia beri. Gadis itu hanya bersandar disofa menonton El yang dengan lahap menyantap makanan dihadapnnya.
“Kau tak makan”
“Aku tak lapar, makan saja” ucap gadis itu dengan nada tak peduli, ia terus menatap El seolah cara makan El adalah tontonan yang sangat menarik. El mengerutkan alis, ia tak nyaman ditatap seperti itu dan merasa tak enak karena makan sendiri.
“Setidaknya makan sedikit, kau belum makan apapun dari kemarin kan?” El menyodorkan sesendok makan kedepan mulut gadis itu. Gadis itu terdiam sejenak, perlahan ia membuka mulutnya dan menyantapnya. “Astaga ini sendokku, maaf” el baru menyadari menyodorkan sendok bekasnya pada seorang gadis yang tak ia kenal.
“Ini enak”
“Maaf”
“Huh?” gadis itu tampak tak peduli. “Makanan ini enak…” ucapgadis itu lagi.
“Er… ya… ini dari restaurant di blok J… karena harganya cukup mahal aku tak pernah membayangkan bisa memakan semua ini” jawab El,
“Hn… aku tak tahu ada makanan seenak itu” El tak mengerti ucapan gadis itu.
“Ini belum apa-apa, itu menu utamanya apa kau mau mencoba?”
“… sedikit mungkin”
“Aku ambilkan sendok dulu”
“Tidak, aku hanya akan mencicipinya sedikit”
“Kau memintaku menyuapimu lagi?” El menatap tak percaya, gadis itu tak menjawab, dari tatapannya el bisa sedikit mengerti, ‘apa yang salah dengan itu?’ seolah tertulis di wajah gadis itu. Ia melengguh, ia tak mengenal gadis ini begitu pun sebaliknya, apa itu sikap orang yang tak saling mengenal? Atau gadis ini terlalu polos dan mempercayainya begitu saja? Bukankah itu aneh? El tak menyatakan apapun, ia hanya perlu menyuapi satu sendok setiap makanan, well berhubung semuanya dibayar gadis ini jadi ia tak perlu berfikir terlalu banyak.
Adapun reaksi gadis itu, ia akan memuji beberapa makanan dan menilai beberapa lainnya aneh. Pikiran tentang kecanggugan perlahan mulai terkikis. El bahkan mulai menikmatinya tanpa ia sadari.
“Aku kenyang” ucap gadis itu pada piring ke sepuluh.
“Huh?”
“Aku terlalu kenyang”
“Tidak, bukan itu, kau baru makan 10 suap”
“… ya tapi aku sudah sangat kenyang”
“… “ kalau dipikir-pikir gadis ini cukup kurus, kulitnya pucat dan member kesan sedikit tak terawat, badannya pun snagat ringan padahal tingginya hanya 10 cm dibawah Elvian. Bukannya itu aneh?
“Aku Danni El Vian, sebagai tetanggamu aku akan dapat masalah jika kau pingsan seperti kemarin”
“Er… Danni El Vian? Ah jadi ini kompleks yang sama, namaku Wie Kalina, kau bisa memnggilku Wika.”
“Wika? Oh baiklah, berapa usiamu?”
“13-14 tahun ini”
“Hm? Kita seumuran… kenapa bocah sepertimu tinggal sendiri?”
“Kau menyebutku begitu saat kau sendiri diposisi yang sama?”
“Well… aku punya alasan”
“Begitupun denganku”
“Oh baiklah, tapi makanlah lebih banyak atau kau bisa mati kelaparan”
“Aku belum pernah sakit karena kelaparan”
“Lalu yang kemarin?”
“Aku hanya kelelahan dan tertidur”
“Aku tak mengerti”
“Itu karena kau bocah”
“Ugh…” El tak bisa menimpali, El mulai menyantap makanannya lagi. Ia menyerah di piring ke 13.
“Apa ini?”
“Bonus mungkin” ucap El sambil lalu, membawa beberapa makanan yang tak bisa ia makan kekulkas.
“Pudding”
“Pudding?”
“Boleh aku memakannya?”
“… silahkan, aku tak suka makanan manis” jawab El. ‘lagi pula semua ini kau yang bayar’. Wika menyantapnya dengan wajah bahagia yang tak pernah El bayangkan.
Malam itu wika menghabiskan waktu di apartemen Elvian, mesipun Elvian menolaknya tapi pada akhirnya tak berdaya, Wika terlalu keras kepala dan egois, terlalu tangguh untuk Elvian yang tak punya banyak pengelaman berdebat. Sebagai gantinya Wika bersedia membeli beberapa kebutuhan Elvian selama Elvian mau membiarkannya tinggal dan mengurusnya.
Suatu hari.
“Mau keluar?”
“Ya, aku harus mengunjungi tempat kerjaku”
“Kerja? Dimana?”
“Jx…” jawab El sambil menatap wajah Wika menunggu reaksi. “Aku seorang model masih dalam masa trine” lanjutnya.
“Wow… dunia begitu kecil. Sampaikan salamku pada Jhonatan”
“Maksudmu pimpinan Jx, Mr. Jhonnatan?”
“Ya…”
“Kau mengenalnya?”
“Semacam itu…”
“… Baiklah… aku pergi”
“Ya… hati-hati” Wika mengantarnya hingga pintu. Hubungan keduanya tak banyak berubah, mereka tak bertanya masalah pribadi, Elvian mulai sedikit terbuka, ia tak segan mengomel saat melihat kekacauan yang Wika buat dan Wika sama sekali tak mencoba memperbaiki kekacauannya. Mereka hanya terus seperti itu. Tak banyak percakapan (diluar omelan dan perdebatan) diantara keduanya, hanya duduk diam atau mengerjakan sesuatu diruang yang sama dan itu nyaman untuk keduanya, jadi tak ada masalah.
Setibanya Elvian di kantor Jx, ia mengurus banyak hal. Jadwal latihan dan latihan apa saja yang akan diambil, ia juga dikenalkan seorang manager yang akan mengurus jadwalnya mulai sekarang. Jx termasuk agensi baru yang dikenal sangat emmanjakan talentnya, semua talent punya hari libur setiap minggunya dan untuk pelajar jadwal mereka akan dimulai usai jam sekolah, tentu saja mereka menuntut hasil yang lebih dari sekedar baik, karenanya meskipun banyak orang ingin masuk agensi ini mereka akan segera dibuat menyerah sebelum mencoba. Usai semua urusan, Elvian hendak pamit kemudian mengingat sesuatu.
“Permisi Miss Risa…”
“Ya? ada apa Daniel?”
“Apa Mr. Jhonnatan ada?”
“… ada kepentingan apa dengan direktur? Aku bisa menghubunginya jika itu mendesak”
“Tidak bukan begitu, aku hanya mau menyampaikan salam dari Wika… er…” El mencoba mengingat nama lengkap Wika.
“Wika?”
“Tidak, seorang bernama Wie Kalina menyampaikan salam untuk Mr. Jhonnatan” Risa membelalakkan matanya.
“Ada hubungan apa Daniel dengan Nona Wie?” tanyanya.
“Hubungan?” Elvian cukup terkejut dengan reaksi Miss Risa. “Dia tetanggaku dan beberapa hari ini tinggal denganku”
“Oh astaga…” Risa tak berkenti dengan keterkejutannya.
“Maaf sebelumnya, siapa dia sebenarnya”
“…” Risa mencoba menenangkan diri, “Ini masih jadi rahasia jadi jangan pernah mengatakan pada siapapun”
“Ba.. Baik…”
“Nona Wie Kalina adalah pendiri dan pemilik yang sekarang jadi direktur utama H’s…”
“Huh?”
“Itu artinya posisinya jauh diatas Direktur Jhonnatan”
“Huh!?”
“Aku ngga tahu bagaimana kau mengenal Nona Wie, tapi berusahalah bersikap baik, itu semua akan mendatangkan banyak hal baik untukmu”
“….” Kali ini giliran Elvian yang tak pulih dari syoknya, Siapa di Vienct yang tak tahu perusahaan yang terus berkembang hingga saat ini dan menjadi salah satu perusahaan raksasa di Vienct? Perusahaan yang baru berdiri beberapa tahun terakhit tapi tumbuh dengan pertumbuhan yang menakutkan dan mulai bersaing dnegan sederet nama besar perusahaan milik para bangsawan. Yang menjadikan H’s menakutkan adalah mereka mau membayar siapapun yang mau bekerja, termasuk anak-anak. Elvian termasuk bagian ini, ia sebagai anak yatim piatu disebuah panti mulai bekerja di H’s 2 tahun terakhir, pekerjaan untuk anak kecil hanya 3-4 jam perhari, itupun dengan pekerjaan yang tak terlalu berat, ditambah gaji yang cukup besar siapa yang tak mau? Ia bekerja di pabrik tekstil sampai seorang desainer ternama meliriknya dan jadilah ia yang sekarang. Dan dipuncak H’s adalah sosok mungil gadis itu? Yang benar saja…
***

Prolog

Salah satu sudut Central, Vienct.

Dua sosok remaja duduk berdampingan disebuah café, tak ada pembicaraan keduanya hanya duduk, saling menyandarkan diri satu dengan yang lain. Penampilan keduanya membuat semua orang terpesona sekaligus takut mendekat. Rambut hitam pekat, kulit pucat, wajah dan aura yang mirip, keduanya sangat mempesona.
“Pe…Permisi… ini pesanan anda”
“…”
“Thanks…” ucap remaja laki-lakinya sambil menatap wajah gadis yang bersandar santai padanya.ia bahkan tak mengalihkan padangannya dari gadis disebelahnya. Gadis itu hanya menatap pelayan tadi, tatapan yang membuat seorang sangat grogi tak peduli siapapun itu. Pelayan itu hampir menjatuhkan piring makanan ditangannya.
“Maafkan aku…” ucapnya benar-benar tak tahan lagi. Remaja laki-laki itu segera menutup mata gadis disampingnya.
“Sudah taka pa?”
“I..Iya…” denagn cepat sang pelayan meletakkan sisa pesanan dimeja lalu pergi.
“Mau makan sesuatu?”
“…”
“kalau begitu biarkan aku makan dulu” ucap laki-laki itu, gadis itu enggan menjauh malah memeluk punggung laki-laki itu. Seolah itu bukan hal yang baru, remaja laki-laki itu santai menyantap makanannya. Beberapa orang menatap penasaran pada sikap gadis itu tapi juga memuji sikap tak acuh laki-laki itu.
Tak perlu waktu lama 8 piring besar makanan sudah berpindah ke perut remaja laki-laki itu. Semua yang kebetulan ada di café itu menatapnya tak percaya. Usai meneguk minumannya, ia membuka lagi buku menu yang mau tak mau membuat semua orang terkejut, ‘mau makan lagi?’. Setalah memanggil pelayan ia memesan 2 pafait jumbo.
“Wika… makananmu datang” ucap laki-laki itu, dengan lembut ia meraih badan gadis itu dan memandunya duduk dengan baik. Laki-laki itu menyentuh dahi gadis yang ia panggil Wika itu. “Demammu masih belum turun… kita langsung pulang setelah ini”
“Hn…” itu kali pertama Wika merespon. Tampaknya wika terlalu lemas untuk mengangkat tangannya, laki-laki itupun akhirnya menyuapinya hingga 2 porsi jumbo pafait habis.
“Aku bayar dulu, kamu tunggu disini”
“…” Wika bersandar lemas disandaran sofa. Saat laki-laki itu kembali Wika sudah setengah sadar. Laki-laki itu pun melengguh pelan, dengan sigap diangkatnya badan Wika kemudian beranjak pergi.
“El?” lirih Wika.
“Ya?” memastikan itu laki-laki tadi, Wika baru tertidur. Pemandangan yang membuat wajah siapa pun memerah dan membuat wanita diselirih dunia cemburu. Such a gentle…

Ini cerita tentang kehidupan dua orang tadi, Wika dan Elvian. Kehidupan yang sangat berbeda dari kehidupan remaja pada umumnya. Selamat datang dikehidupan Wika dan Elvian.

Rabu, 02 November 2016

Prolog?

Hey…

Apa kau percaya ‘Takdir’?

Ada banyak orang diluar sana yang tak mempercayainya dan sebagian orang yang mempercayainya tampak sedikit bodoh dihadan mereka

.‘Bagaimana bisa sebuah kebetulan dikatakan sebagi takdir?

Tapi aku percaya, lupakan soal logika. Sekenario ‘Kebetulan’ ini terlalu bagus, terlalu rapi untuk diabaikan. Ada banyak sekali kebetulan dalam hubungan kami dan akhirnya kami memutuskan dari pertemuan pertama (mungkin lebih lama dari itu), hingga sampai kami bersama semua itu adalah sekenario yang Tuhan atur. Tidak, aku bukan orang alim tapi setidaknya aku mempercayai Tuhan beserta kebesaran-Nya.