Prolog
Salah satu sudut Central, Vienct.
Dua sosok remaja duduk berdampingan disebuah café, tak ada
pembicaraan keduanya hanya duduk, saling menyandarkan diri satu dengan yang
lain. Penampilan keduanya membuat semua orang terpesona sekaligus takut
mendekat. Rambut hitam pekat, kulit pucat, wajah dan aura yang mirip, keduanya
sangat mempesona.
“Pe…Permisi… ini pesanan anda”
“…”
“Thanks…” ucap remaja laki-lakinya sambil menatap wajah
gadis yang bersandar santai padanya.ia bahkan tak mengalihkan padangannya dari
gadis disebelahnya. Gadis itu hanya menatap pelayan tadi, tatapan yang membuat
seorang sangat grogi tak peduli siapapun itu. Pelayan itu hampir menjatuhkan
piring makanan ditangannya.
“Maafkan aku…” ucapnya benar-benar tak tahan lagi. Remaja
laki-laki itu segera menutup mata gadis disampingnya.
“Sudah taka pa?”
“I..Iya…” denagn cepat sang pelayan meletakkan sisa pesanan
dimeja lalu pergi.
“Mau makan sesuatu?”
“…”
“kalau begitu biarkan aku makan dulu” ucap laki-laki itu,
gadis itu enggan menjauh malah memeluk punggung laki-laki itu. Seolah itu bukan
hal yang baru, remaja laki-laki itu santai menyantap makanannya. Beberapa orang
menatap penasaran pada sikap gadis itu tapi juga memuji sikap tak acuh
laki-laki itu.
Tak perlu waktu lama 8 piring besar makanan sudah berpindah
ke perut remaja laki-laki itu. Semua yang kebetulan ada di café itu menatapnya
tak percaya. Usai meneguk minumannya, ia membuka lagi buku menu yang mau tak
mau membuat semua orang terkejut, ‘mau makan lagi?’. Setalah memanggil pelayan ia
memesan 2 pafait jumbo.
“Wika… makananmu datang” ucap laki-laki itu, dengan lembut
ia meraih badan gadis itu dan memandunya duduk dengan baik. Laki-laki itu
menyentuh dahi gadis yang ia panggil Wika itu. “Demammu masih belum turun… kita
langsung pulang setelah ini”
“Hn…” itu kali pertama Wika merespon. Tampaknya wika terlalu
lemas untuk mengangkat tangannya, laki-laki itupun akhirnya menyuapinya hingga
2 porsi jumbo pafait habis.
“Aku bayar dulu, kamu tunggu disini”
“…” Wika bersandar lemas disandaran sofa. Saat laki-laki itu
kembali Wika sudah setengah sadar. Laki-laki itu pun melengguh pelan, dengan
sigap diangkatnya badan Wika kemudian beranjak pergi.
“El?” lirih Wika.
“Ya?” memastikan itu laki-laki tadi, Wika baru tertidur.
Pemandangan yang membuat wajah siapa pun memerah dan membuat wanita diselirih
dunia cemburu. Such a gentle…
Ini cerita tentang kehidupan dua orang tadi, Wika dan Elvian.
Kehidupan yang sangat berbeda dari kehidupan remaja pada umumnya. Selamat
datang dikehidupan Wika dan Elvian.