Kamis, 02 Maret 2017

Prolog

Salah satu sudut Central, Vienct.

Dua sosok remaja duduk berdampingan disebuah café, tak ada pembicaraan keduanya hanya duduk, saling menyandarkan diri satu dengan yang lain. Penampilan keduanya membuat semua orang terpesona sekaligus takut mendekat. Rambut hitam pekat, kulit pucat, wajah dan aura yang mirip, keduanya sangat mempesona.
“Pe…Permisi… ini pesanan anda”
“…”
“Thanks…” ucap remaja laki-lakinya sambil menatap wajah gadis yang bersandar santai padanya.ia bahkan tak mengalihkan padangannya dari gadis disebelahnya. Gadis itu hanya menatap pelayan tadi, tatapan yang membuat seorang sangat grogi tak peduli siapapun itu. Pelayan itu hampir menjatuhkan piring makanan ditangannya.
“Maafkan aku…” ucapnya benar-benar tak tahan lagi. Remaja laki-laki itu segera menutup mata gadis disampingnya.
“Sudah taka pa?”
“I..Iya…” denagn cepat sang pelayan meletakkan sisa pesanan dimeja lalu pergi.
“Mau makan sesuatu?”
“…”
“kalau begitu biarkan aku makan dulu” ucap laki-laki itu, gadis itu enggan menjauh malah memeluk punggung laki-laki itu. Seolah itu bukan hal yang baru, remaja laki-laki itu santai menyantap makanannya. Beberapa orang menatap penasaran pada sikap gadis itu tapi juga memuji sikap tak acuh laki-laki itu.
Tak perlu waktu lama 8 piring besar makanan sudah berpindah ke perut remaja laki-laki itu. Semua yang kebetulan ada di café itu menatapnya tak percaya. Usai meneguk minumannya, ia membuka lagi buku menu yang mau tak mau membuat semua orang terkejut, ‘mau makan lagi?’. Setalah memanggil pelayan ia memesan 2 pafait jumbo.
“Wika… makananmu datang” ucap laki-laki itu, dengan lembut ia meraih badan gadis itu dan memandunya duduk dengan baik. Laki-laki itu menyentuh dahi gadis yang ia panggil Wika itu. “Demammu masih belum turun… kita langsung pulang setelah ini”
“Hn…” itu kali pertama Wika merespon. Tampaknya wika terlalu lemas untuk mengangkat tangannya, laki-laki itupun akhirnya menyuapinya hingga 2 porsi jumbo pafait habis.
“Aku bayar dulu, kamu tunggu disini”
“…” Wika bersandar lemas disandaran sofa. Saat laki-laki itu kembali Wika sudah setengah sadar. Laki-laki itu pun melengguh pelan, dengan sigap diangkatnya badan Wika kemudian beranjak pergi.
“El?” lirih Wika.
“Ya?” memastikan itu laki-laki tadi, Wika baru tertidur. Pemandangan yang membuat wajah siapa pun memerah dan membuat wanita diselirih dunia cemburu. Such a gentle…

Ini cerita tentang kehidupan dua orang tadi, Wika dan Elvian. Kehidupan yang sangat berbeda dari kehidupan remaja pada umumnya. Selamat datang dikehidupan Wika dan Elvian.